{"id":590,"date":"2026-07-13T01:56:09","date_gmt":"2026-07-13T01:56:09","guid":{"rendered":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/?p=590"},"modified":"2026-07-13T02:27:03","modified_gmt":"2026-07-13T02:27:03","slug":"legenda-rawa-pening","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/?p=590","title":{"rendered":"Legenda Rawa Pening"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dahulu kala, terdapat sebuah desa bernama Ngasem yang terletak di antara Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo. Di desa itu tinggal sepasang suami istri, Ki Hajar dan Nyai Salokananta, yang dikenal baik hati dan suka menolong, namun belum memiliki anak. Suatu hari, Nyai Salokananta secara ajaib mengandung dan kemudian melahirkan seekor naga yang diberi nama Baru Klinthing, diambil dari nama pusaka tombak milik Ki Hajar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun berwujud naga, Baru Klinthing dapat berbicara seperti manusia. Karena merasa malu, Nyai Salokananta merawatnya secara sembunyi-sembunyi. Ketika dewasa, Baru Klinthing ingin mengetahui ayahnya, sehingga ibunya menyuruhnya pergi ke Gunung Telomoyo sambil membawa tombak pusaka sebagai bukti. Awalnya Ki Hajar tidak percaya, namun setelah Baru Klinthing berhasil melingkari Gunung Telomoyo, ia mengakui bahwa naga tersebut adalah anaknya. Ki Hajar kemudian memerintahkan Baru Klinthing bertapa di Bukit Tugur agar bisa berubah menjadi manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sisi lain, terdapat Desa Pathok yang makmur, tetapi penduduknya sombong. Saat mengadakan pesta sedekah bumi, mereka berburu ke Bukit Tugur dan tanpa sadar menangkap serta memotong tubuh Baru Klinthing untuk dijadikan makanan. Kemudian, Baru Klinthing menjelma menjadi anak kecil yang terluka dan meminta makanan kepada warga, tetapi mereka justru mengusir dan menghina dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang janda tua bernama Nyi Latung yang dengan tulus memberinya makanan dan tempat beristirahat. Baru Klinthing pun memperingatkan agar Nyi Latung bersiap jika mendengar suara gemuruh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keesokan harinya, Baru Klinthing kembali ke desa dan menancapkan sebatang lidi ke tanah, menantang warga untuk mencabutnya. Tidak ada yang berhasil, hingga akhirnya ia sendiri mencabut lidi tersebut. Seketika, air menyembur deras dari tanah dan menyebabkan banjir besar yang menenggelamkan seluruh desa. Desa Pathok pun berubah menjadi danau yang kini dikenal sebagai Rawa Pening.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nyi Latung selamat karena mengikuti peringatan Baru Klinthing dengan naik ke atas lesung yang digunakan sebagai perahu. Setelah itu, Baru Klinthing kembali ke wujud naga dan menjaga Rawa Pening.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ref. M &#8216;Ayyasy Arr<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dahulu kala, terdapat sebuah desa bernama Ngasem yang terletak di antara Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo. Di desa itu tinggal sepasang suami istri, Ki Hajar dan Nyai Salokananta, yang dikenal baik hati dan suka menolong, namun belum memiliki anak. Suatu hari, Nyai Salokananta secara ajaib mengandung dan kemudian melahirkan seekor naga yang diberi nama Baru&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":649,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","_uag_custom_page_level_css":"","footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-590","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/rawa-pening-1.jpg",2048,1365,false],"thumbnail":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/rawa-pening-1-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/rawa-pening-1-300x200.jpg",300,200,true],"medium_large":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/rawa-pening-1-768x512.jpg",640,427,true],"large":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/rawa-pening-1-1024x683.jpg",640,427,true],"1536x1536":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/rawa-pening-1-1536x1024.jpg",1536,1024,true],"2048x2048":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/rawa-pening-1.jpg",2048,1365,false],"digital-newspaper-featured":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/rawa-pening-1-1020x700.jpg",1020,700,true],"digital-newspaper-list":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/rawa-pening-1-600x400.jpg",600,400,true],"digital-newspaper-thumb":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/rawa-pening-1-300x200.jpg",300,200,true],"digital-newspaper-small":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/rawa-pening-1-150x95.jpg",150,95,true],"digital-newspaper-grid":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/rawa-pening-1-400x250.jpg",400,250,true]},"uagb_author_info":{"display_name":"By Asif, dkk.","author_link":""},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Dahulu kala, terdapat sebuah desa bernama Ngasem yang terletak di antara Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo. Di desa itu tinggal sepasang suami istri, Ki Hajar dan Nyai Salokananta, yang dikenal baik hati dan suka menolong, namun belum memiliki anak. Suatu hari, Nyai Salokananta secara ajaib mengandung dan kemudian melahirkan seekor naga yang diberi nama Baru...","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/590","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=590"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/590\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":653,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/590\/revisions\/653"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/649"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=590"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=590"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=590"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}