{"id":781,"date":"2026-07-13T03:56:30","date_gmt":"2026-07-13T03:56:30","guid":{"rendered":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/?p=781"},"modified":"2026-07-13T03:56:31","modified_gmt":"2026-07-13T03:56:31","slug":"asal-usul-kota-surabaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/?p=781","title":{"rendered":"Asal Usul Kota Surabaya"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dahulu kala di sebelah utara Jawa Timur hiduplah seekor buaya raksasa<br>yang ganas dan Menyeramkan, dia adalah penguasa sungai dan menjadi<br>pemangsa yang sangat di takuti oleh Semua binatang di hutan sepanjang tepian<br>di sungai, nama buaya itu adalah Baya, dia sangat Pandai berburu sehingga<br>membuat takut semua binatang di hutan. Sungai yang didiami Baya itu<br>Bermuara pada laut yang luas, di laut itu tinggallah seekor hiu ganas yang<br>bernama Sura, dialah Penguasa laut yang di takuti semua ikan. Akan tetapi Sura<br>merasa bosan hanya memakan ikan setiap hari. Suatu hari Sura pergi memburu<br>di sungai dan menyantap anak kijang, Sura menjadi ketagihan, keesokan<br>harinya ia berburu kembali di sungai itu dan mendapat banyak santapan.<br>Semakin hari Baya menjadi curiga karena sulit untuk mencari mangsa, dia pun<br>menyelidiki penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat melihat Sura yang sedang menangkap seekor anak monyet berenang<br>di sungai, Baya Marah. \u201cHei Sura apa yang kau lakukan disini? Ini daerah<br>kekuasaanku beraninya kamu merebut jatah makanan ku di sungai ini.\u201dujar<br>Baya yang marah kepada Sura, Sura pun tidak takut sama sekali kepada baya<br>dia malah menantang Baya \u201cTerserah aku mau mencari makan dimana, ini kan<br>bukan daerah kekuasaan mu, jadi semua binatang bebas mencari makanan di<br>sini, di sungai ini.\u201d Akhirnya perkelahian pun tidak dapat di cegah keduanya<br>saling bertarung karena sama-sama kuat. Pertarungan tersebut terus berlangsung<br>berhari-hari lamanya sampai semua binatang di hutan pun ikut terganggu<br>dengan perkelahian dua hewan buas tersebut, mereka tidak bisa tidur dan tak<br>tenang. Akhirnya kedua binatang buas itu pun kelelahan tak ada yang menang<br>dan tak ada yang kalah sebab keduanya sama sama kuat. \u201cSura sebaiknya kita<br>sudahi saja perkelahian ini, aku sudah lelah.\u201d \u201cAku juga Baya.\u201d \u201cBaiklah kita<br>sudahi saja pertempuran ini.\u201d \u201cMulai sekarang kita batasi saja daerah perburuan<br>kita. Muara itu adalah batasnya, jangan sampai kamu melanggar batasnya Sura,<br>karena kamu akan merasakan sendiri akibatnya.\u201d \u201cBaiklah Baya aku terima<br>perjanjian ini.\u201d Sura pun akhirnya pergi dari sungai itu dan kembali ke laut.<br>Berbulan-bulan lamanya, hutan menjadi tenang kembali, tak ada perkelahian<br>antara Sura dan Baya lagi, namun Sura merasa gelisah, dia rindu makan daging<br>kijang seperti dulu. Ikan-ikan yang melimpah di laut tak bisa menyembuhkan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">rasa laparnya, dia tak mampu menahannya. Diam-diam dia berenang di muara,<br>namun sayangnya tak ada mangsa yang mendekat ke muara Sura bosan<br>menunggu, akhirnya dia berenang masuk ke dalam hutan. Sura senang bisa<br>kembali ke hutan lagi, kali ini dia harus berhati-hati supaya tidak ketahuan oleh<br>Baya. Berbulan-bulan lamanya Sura berburu di sungai tanpa ketahuan, lama-<br>lama baya menjadi curiga, sebab lagi-lagi mangsanya berkurang meski dia tak<br>melihat Sura di sungai ini, tapi dia yakin ini ulah Sura, kemudian Baya<br>menyiapkan rencana, Baya sengaja menangkap seekor kijang. Dia melukai kaki<br>kijang itu agar tak bisa lari, kijang itu di letakkan di pinggir sungai, lalu Baya<br>bersembunyi. Sura yang berenang di sungai melihat kijang yang terluka itu,<br>hatinya gembira sebab kijang itu gemuk, ketika dia hendak membawa kijang itu<br>ke laut tiba tiba-tiba Baya datang menghadangnya, &#8220;Hei, kamu ini memang<br>bandar dan tak tahu malu Sura, serakah sekali kamu, bayangkan ikan-ikan di<br>lautmu melimpah tapi kamu malah berburu ditempat ku&#8221; ujar Baya yang<br>mengetahui Sura yang mengambil seekor kijang tersebut. &#8220;Hei Baya kalau kau<br>mau kau bisa saja berburu ikan di laut, aku tidak melarangmu.&#8221;, &#8220;Halah, mana<br>doyan aku dengan ikan, apalagi aku tak tahan dengan air laut.&#8221; &#8220;Yasudah kalau<br>kau tidak mau, yang penting aku sudah menawarkan kepadamu&#8221;, Sura dengan<br>enteng menjawab lalu bersiap menyeret kijang itu ke laut, Baya semakin marah<br>lalu menyerang Sura. &#8220;Hei mau kau bawa kemana kijang itu?&#8221;, &#8220;Ya ke laut lah,<br>akan ku bakar disana&#8221;, bawa kesini kijangnya, tadi aku menangkapnya hanya<br>untuk menjebak mu.&#8221;, &#8220;Enak saja, salah sendiri kamu tidak langsung memakan<br>kijang nya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena tidak ada yang mau mengalah, maka pertempuran sengit antara<br>Ikan Hiu Sura dan Buaya Baya terjadi lagi. Pertarungan kali ini semakin seru<br>dan dahsyat. Saling menerjang dan menerkam, saling menggigit dan memukul.<br>Dalam waktu sekejap, air disekitarnya menjadi merah oleh darah yang keluar<br>dari luka-luka kedua binatang tersebut. Mereka terus bertarung mati-matian<br>tanpa istirahat sama sekali. Dalam pertarungan dahsyat ini, Baya terkena gigitan<br>Sura di pangkal ekornya sebelah kanan. Selanjutnya, ekor itu terpaksa selalu<br>membengkok ke kiri. Sementara Sura juga tergigit ekornya hingga hampir<br>putus, lalu Sura kembali ke lautan. Baya puas telah dapat mempertahankan<br>daerahnya. Pertarungan antara ikan Hiu yang bernama Sura dan Buaya bernama<br>Baya ini sangat berkesan di hati masyarakat Surabaya. Oleh karena itu, nama<br>Surabaya selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari peristiwa inilah kemudian dibuat lambang Kota Surabaya, yaitu<br>gambar &#8220;Ikan Hiu Sura dan Buaya Baya&#8221;. Namun ada juga sebagian yang<br>berpendapat asal-usul nama Surabaya berasal dari kata Sura dan Baya. Sura<br>berarti Jaya atau selamat. Baya berarti bahaya, jadi Surabaya berarti &#8220;Selamat<br>menghadapi bahaya&#8221;. Bahaya yang dimaksud adalah serangan tentara Tar-tar<br>yang hendak menghukum Raja Jawa. Seharusnya yang dihukum adalah<br>Kartanegara, karena Kartanegara sudah tewas terbunuh, maka Jayakatwang<br>yang diserbu oleh tentara Tar-tar itu. Setelah mengalahkan Jayakatwang, orang<br>Tar-tar itu merampas harta benda dan puluhan gadis-gadis cantik untuk dibawa<br>ke Tiongkok. Raden Wijaya tidak terima diperlakukan seperti itu. Dengan siasat<br>yang jitu, Raden Wijaya menyerang tentara Tar-tar di pelabuhan Ujung Galuh<br>hingga mereka menyingkir kembali ke Tiongkok.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selanjutnya, dari hari peristiwa kemenangan Raden Wijaya inilah<br>ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surabaya. Surabaya sepertinya sudah<br>ditakdirkan untuk terus bergolak. Tanggal 10 November 1945 adalah bukti jati<br>diri warga Surabaya yaitu berani menghadapi bahaya serangan Inggris dan<br>Belanda. Di zaman sekarang, setelah ratusan tahun dari cerita asal usul<br>Surabaya Tersebut, ternyata pertarungan memperebutkan wilayah air dan darat<br>terus berlanjut. Di kala Musim penghujan tiba kadangkala banjir menguasai<br>kota Surabaya. Pada musim kemarau, Kadangkala tempat-tempat genangan air<br>menjadi daratan kering. Itulah yang di namakan \u201cSurabaya\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari cerita tersebut dapat diambil pesan bahwa &#8220;Janganlah menjadi orang<br>yang serakah dan tidak tahu malu seperti Sura yang sudah memiliki banyak<br>makanan di laut namun tetap mengambil jatah orang lain di sungai. Kita harus<br>menghargai kesepakatan atau janji yang telah dibuat bersama agar tidak terjadi<br>perpecahan atau permusuhan.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dahulu kala di sebelah utara Jawa Timur hiduplah seekor buaya raksasayang ganas dan Menyeramkan, dia adalah penguasa sungai dan menjadipemangsa yang sangat di takuti oleh Semua binatang di hutan sepanjang tepiandi sungai, nama buaya itu adalah Baya, dia sangat Pandai berburu sehinggamembuat takut semua binatang di hutan. Sungai yang didiami Baya ituBermuara pada laut yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":785,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","_uag_custom_page_level_css":"","footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-781","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerpen"],"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-13-105507.png",648,388,false],"thumbnail":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-13-105507-150x150.png",150,150,true],"medium":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-13-105507-300x180.png",300,180,true],"medium_large":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-13-105507.png",640,383,false],"large":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-13-105507.png",640,383,false],"1536x1536":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-13-105507.png",648,388,false],"2048x2048":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-13-105507.png",648,388,false],"digital-newspaper-featured":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-13-105507.png",648,388,false],"digital-newspaper-list":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-13-105507-600x388.png",600,388,true],"digital-newspaper-thumb":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-13-105507-300x200.png",300,200,true],"digital-newspaper-small":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-13-105507-150x95.png",150,95,true],"digital-newspaper-grid":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Screenshot-2026-07-13-105507-400x250.png",400,250,true]},"uagb_author_info":{"display_name":"Queensha Amira Aurora, dkk","author_link":""},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Dahulu kala di sebelah utara Jawa Timur hiduplah seekor buaya raksasayang ganas dan Menyeramkan, dia adalah penguasa sungai dan menjadipemangsa yang sangat di takuti oleh Semua binatang di hutan sepanjang tepiandi sungai, nama buaya itu adalah Baya, dia sangat Pandai berburu sehinggamembuat takut semua binatang di hutan. Sungai yang didiami Baya ituBermuara pada laut yang...","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/781","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=781"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/781\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":789,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/781\/revisions\/789"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/785"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=781"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=781"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=781"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}