{"id":846,"date":"2026-07-13T04:29:11","date_gmt":"2026-07-13T04:29:11","guid":{"rendered":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/?p=846"},"modified":"2026-07-13T04:45:54","modified_gmt":"2026-07-13T04:45:54","slug":"__trashed-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/?p=846","title":{"rendered":"Legenda Danau Malawen"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa di pinggir sungai Barito, hiduplah sepasang<br>suami istri yang hidup sederhana namun bahagia. Mereka memiliki seorang putra tunggal<br>yang tampan dan berbudi pekerti luhur bernama Kumbang Banaun. Sejak kecil, Kumbang<br>Banaun dididik dengan penuh kasih sayang dan diajarkan nilai-nilai luhur oleh kedua orang<br>tuanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Kumbang Banaun tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Ia mahir berburu dan<br>menangkap ikan. Suatu hari, saat Kumbang sedang berburu di tengah hutan yang lebat, ia<br>tersesat hingga sampai ke sebuah wilayah yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Di<br>sana, ia terpesona melihat sebuah danau kecil yang sangat jernih airnya. Di tepi danau itu,<br>tampak seorang gadis cantik jelita sedang memetik bunga. Gadis itu bernama Intan, putri dari<br>seorang kepala suku di wilayah tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Pertemuan singkat itu membuahkan benih-benih cinta di hati keduanya. Singkat<br>cerita, Kumbang Banaun dan Intan memutuskan untuk menikah. Namun, sebelum pernikahan<br>dilangsungkan, ayah Intan memberikan syarat yang cukup berat. Kumbang Banaun harus<br>mampu menyediakan sebuah piring pusaka yang besar dan antik sebagai mas kawin. Piring<br>itu bukan sembarang piring; konon piring tersebut memiliki kekuatan magis dan hanya<br>dimiliki oleh keluarga terpandang di daerah asal Kumbang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Demi cintanya kepada Intan, Kumbang pulang ke kampung halamannya untuk<br>meminta restu dan piring pusaka tersebut dari orang tuanya. Dengan berat hati namun penuh<br>rasa bangga, ayahnya memberikan piring pusaka keluarga yang paling berharga. Kumbang<br>pun kembali berangkat menuju kediaman Intan dengan membawa piring tersebut yang<br>dibungkus kain sutra.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Pernikahan berlangsung dengan sangat meriah. Kumbang Banaun dan Intan hidup<br>bahagia selama beberapa waktu. Namun, kerinduan Kumbang terhadap orang tuanya mulai<br>muncul. Ia pun mengajak istrinya untuk berkunjung ke desa asalnya di pinggiran Barito.<br>Mereka berangkat menggunakan sebuah perahu besar yang diisi dengan barang-barang<br>berharga, termasuk piring pusaka pemberian ayahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Di tengah perjalanan, cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba berubah gelap gulita. Angin<br>kencang mulai bertiup, dan ombak sungai Barito menjadi sangat ganas. Perahu mereka<br>terombang-ambing di tengah sungai. Di tengah kepanikan itu, Kumbang Banaun teringat<br>akan sesuatu. Dahulu, sebelum ia berangkat menikah, ia pernah bersumpah bahwa piring<br>pusaka itu tidak boleh digunakan oleh siapa pun kecuali untuk urusan keluarga yang sangat<br>mendesak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Namun, dalam sebuah jamuan di atas perahu sebelum badai datang, Intan tanpa<br>sengaja menggunakan piring pusaka tersebut untuk menyajikan makanan bagi para pengawal<br>karena kekurangan wadah. Kumbang yang saat itu sedang tidur tidak mengetahuinya.<br>Menurut kepercayaan masyarakat setempat, melanggar pamali atau sumpah terhadap barang<br>pusaka akan mendatangkan malapetaka besar yang disebut \u201cKualat\u201d.<br>Tiba-tiba, kilat menyambar permukaan air. Sebuah pusaran air raksasa muncul tepat<br>di bawah perahu mereka. Perahu itu tersedot masuk ke dalam dasar sungai yang sangat dalam. Kumbang dan Intan berusaha menyelamatkan diri, namun kekuatan alam jauh lebih<br>besar. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anehnya, air sungai yang tadinya mengalir deras tiba-tiba meluap ke daratan di<br>sekitarnya dan membentuk sebuah cekungan besar yang terpisah dari sungai utama.<br>Lambat laun, air yang meluap itu menetap dan membentuk sebuah danau yang sangat<br>luas. Masyarakat sekitar percaya bahwa perahu yang karam tersebut berubah menjadi dasar<br>danau, dan barang-barang berharga di dalamnya menjelma menjadi penghuni gaib danau<br>tersebut. Danau itu kemudian dikenal dengan nama Danau Malawen.<br>Konon, hingga saat ini, pada malam-malam tertentu yang sunyi, masyarakat setempat<br>terkadang masih mendengar suara alunan musik gamelan atau melihat bayangan perahu besar<br>di tengah danau. Ada pula legenda yang menyebutkan bahwa di dasar danau terdapat seekor<br>buaya putih yang merupakan penjelmaan dari penjaga piring pusaka Kumbang Banaun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">RF- Rahma Dinara<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa di pinggir sungai Barito, hiduplah sepasangsuami istri yang hidup sederhana namun bahagia. Mereka memiliki seorang putra tunggalyang tampan dan berbudi pekerti luhur bernama Kumbang Banaun. Sejak kecil, KumbangBanaun dididik dengan penuh kasih sayang dan diajarkan nilai-nilai luhur oleh kedua orangtuanya. Kumbang Banaun tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Ia&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":867,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","_uag_custom_page_level_css":"","footnotes":""},"categories":[45],"tags":[],"class_list":["post-846","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-1000-goresan-2"],"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/danau-melawen.png",593,405,false],"thumbnail":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/danau-melawen-150x150.png",150,150,true],"medium":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/danau-melawen-300x205.png",300,205,true],"medium_large":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/danau-melawen.png",593,405,false],"large":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/danau-melawen.png",593,405,false],"1536x1536":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/danau-melawen.png",593,405,false],"2048x2048":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/danau-melawen.png",593,405,false],"digital-newspaper-featured":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/danau-melawen.png",593,405,false],"digital-newspaper-list":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/danau-melawen-593x400.png",593,400,true],"digital-newspaper-thumb":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/danau-melawen-300x200.png",300,200,true],"digital-newspaper-small":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/danau-melawen-150x95.png",150,95,true],"digital-newspaper-grid":["https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/danau-melawen-400x250.png",400,250,true]},"uagb_author_info":{"display_name":"Rahma Dinara, dkk","author_link":""},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa di pinggir sungai Barito, hiduplah sepasangsuami istri yang hidup sederhana namun bahagia. Mereka memiliki seorang putra tunggalyang tampan dan berbudi pekerti luhur bernama Kumbang Banaun. Sejak kecil, KumbangBanaun dididik dengan penuh kasih sayang dan diajarkan nilai-nilai luhur oleh kedua orangtuanya. Kumbang Banaun tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Ia...","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/846","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=846"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/846\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":869,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/846\/revisions\/869"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/867"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=846"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=846"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/geliat.mansalatiga.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=846"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}