Di Toilet

Siang itu, suasana sekolah sudah sepi. Semua murid pulang lebih awal karena guru-guru sedang rapat. Namun, Gery masih duduk di kelas. Ia memang terkenal sedikit pendiam, suka menyendiri, dan sering larut dalam pikirannya sendiri.

Perutnya tiba-tiba terasa mulas. Ia menghela napas, membawa tas kecilnya, lalu berjalan menuju toilet sekolah. Toilet itu berada di ujung koridor lantai dua, tempat yang jarang dilewati orang. Gery sebenarnya tidak terlalu suka masuk ke sana, karena penerangannya redup, dan ubin-ubin tua yang retak memberi kesan menyeramkan. Tapi mau bagaimana lagi, rasa mulasnya tidak bisa ditahan.

Begitu mendorong pintu, suara engsel berdecit panjang. Di dalam, hanya ada tiga bilik toilet. Bau khas campuran karbol dan lembap menyambutnya. Gery memilih bilik paling pojok, lalu mengunci pintunya. Ia meletakkan tas di pangkuan, mencoba menenangkan diri.

Saat ia baru saja duduk, tiba-tiba terdengar bunyi langkah kaki masuk. Tok… tok… tok… perlahan tapi jelas. Gery mengira ada murid lain. Namun anehnya, langkah itu berhenti tepat di depan bilik tempatnya berada. Tidak ada suara pintu lain dibuka atau dikunci.

“Siapa…?” gumam Gery pelan, meski ia tahu dirinya sendirian.

Keheningan menjawab. Lalu, entah dari mana, terdengar suara ketukan pelan di pintu biliknya. Tok… tok… tok… tiga kali.

Bulu kuduk Gery berdiri. Ia menahan napas, tidak berani bergerak. Setelah beberapa detik, ketukan itu berhenti. Tapi kini ia mendengar suara aneh seperti seseorang sedang menggeretakkan gigi, lirih namun menusuk telinga.

Gery mencoba berpikir logis. “Mungkin cuma temanku yang iseng.” Tapi hatinya tidak bisa dibohongi. Ada hawa dingin merayap dari bawah pintu, seolah udara di luar bilik lebih beku dibandingkan di dalam.

Tiba-tiba, sesuatu yang lebih menyeramkan terjadi. Dari celah bawah pintu, Gery melihat bayangan kaki. Namun anehnya, kaki itu bukan seperti manusia biasa. Hitam, panjang, dan jari-jarinya sangat kurus seperti cakar. Kaki itu berdiri diam, tepat di depan pintunya.

Jantung Gery berdetak kencang. Ia ingin berteriak, tapi suara tercekat di tenggorokan. Ia menutup mulut dengan tangan agar tidak mengeluarkan suara apapun. Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.

Kemudian, perlahan, bayangan kaki itu menghilang. Suasana kembali sunyi. Gery menunggu, memastikan bahwa benar-benar sudah tidak ada siapa pun. Dengan tangan gemetar, ia membuka kunci bilik.

Saat pintu didorong, toilet tampak kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Namun, di cermin besar yang tergantung di dinding, Gery melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Refleksi dirinya memang ada, tapi di sebelahnya terlihat sosok lain: tinggi, berambut panjang kusut, dengan wajah pucat tanpa mata, hanya rongga hitam menganga.

Sosok itu berdiri tepat di belakangnya dalam cermin.

Gery spontan menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa. Saat menatap cermin lagi, sosok itu sudah lenyap.

Tanpa berpikir panjang, ia meraih tasnya dan berlari keluar dari toilet secepat mungkin. Jantungnya masih berdebar kencang, napasnya tersengal, dan keringat dingin membasahi tubuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *