Legenda Danau Malawen

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa di pinggir sungai Barito, hiduplah sepasang
suami istri yang hidup sederhana namun bahagia. Mereka memiliki seorang putra tunggal
yang tampan dan berbudi pekerti luhur bernama Kumbang Banaun. Sejak kecil, Kumbang
Banaun dididik dengan penuh kasih sayang dan diajarkan nilai-nilai luhur oleh kedua orang
tuanya.


Kumbang Banaun tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Ia mahir berburu dan
menangkap ikan. Suatu hari, saat Kumbang sedang berburu di tengah hutan yang lebat, ia
tersesat hingga sampai ke sebuah wilayah yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Di
sana, ia terpesona melihat sebuah danau kecil yang sangat jernih airnya. Di tepi danau itu,
tampak seorang gadis cantik jelita sedang memetik bunga. Gadis itu bernama Intan, putri dari
seorang kepala suku di wilayah tersebut.


Pertemuan singkat itu membuahkan benih-benih cinta di hati keduanya. Singkat
cerita, Kumbang Banaun dan Intan memutuskan untuk menikah. Namun, sebelum pernikahan
dilangsungkan, ayah Intan memberikan syarat yang cukup berat. Kumbang Banaun harus
mampu menyediakan sebuah piring pusaka yang besar dan antik sebagai mas kawin. Piring
itu bukan sembarang piring; konon piring tersebut memiliki kekuatan magis dan hanya
dimiliki oleh keluarga terpandang di daerah asal Kumbang.


Demi cintanya kepada Intan, Kumbang pulang ke kampung halamannya untuk
meminta restu dan piring pusaka tersebut dari orang tuanya. Dengan berat hati namun penuh
rasa bangga, ayahnya memberikan piring pusaka keluarga yang paling berharga. Kumbang
pun kembali berangkat menuju kediaman Intan dengan membawa piring tersebut yang
dibungkus kain sutra.


Pernikahan berlangsung dengan sangat meriah. Kumbang Banaun dan Intan hidup
bahagia selama beberapa waktu. Namun, kerinduan Kumbang terhadap orang tuanya mulai
muncul. Ia pun mengajak istrinya untuk berkunjung ke desa asalnya di pinggiran Barito.
Mereka berangkat menggunakan sebuah perahu besar yang diisi dengan barang-barang
berharga, termasuk piring pusaka pemberian ayahnya.


Di tengah perjalanan, cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba berubah gelap gulita. Angin
kencang mulai bertiup, dan ombak sungai Barito menjadi sangat ganas. Perahu mereka
terombang-ambing di tengah sungai. Di tengah kepanikan itu, Kumbang Banaun teringat
akan sesuatu. Dahulu, sebelum ia berangkat menikah, ia pernah bersumpah bahwa piring
pusaka itu tidak boleh digunakan oleh siapa pun kecuali untuk urusan keluarga yang sangat
mendesak.


Namun, dalam sebuah jamuan di atas perahu sebelum badai datang, Intan tanpa
sengaja menggunakan piring pusaka tersebut untuk menyajikan makanan bagi para pengawal
karena kekurangan wadah. Kumbang yang saat itu sedang tidur tidak mengetahuinya.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, melanggar pamali atau sumpah terhadap barang
pusaka akan mendatangkan malapetaka besar yang disebut “Kualat”.
Tiba-tiba, kilat menyambar permukaan air. Sebuah pusaran air raksasa muncul tepat
di bawah perahu mereka. Perahu itu tersedot masuk ke dalam dasar sungai yang sangat dalam. Kumbang dan Intan berusaha menyelamatkan diri, namun kekuatan alam jauh lebih
besar.

Anehnya, air sungai yang tadinya mengalir deras tiba-tiba meluap ke daratan di
sekitarnya dan membentuk sebuah cekungan besar yang terpisah dari sungai utama.
Lambat laun, air yang meluap itu menetap dan membentuk sebuah danau yang sangat
luas. Masyarakat sekitar percaya bahwa perahu yang karam tersebut berubah menjadi dasar
danau, dan barang-barang berharga di dalamnya menjelma menjadi penghuni gaib danau
tersebut. Danau itu kemudian dikenal dengan nama Danau Malawen.
Konon, hingga saat ini, pada malam-malam tertentu yang sunyi, masyarakat setempat
terkadang masih mendengar suara alunan musik gamelan atau melihat bayangan perahu besar
di tengah danau. Ada pula legenda yang menyebutkan bahwa di dasar danau terdapat seekor
buaya putih yang merupakan penjelmaan dari penjaga piring pusaka Kumbang Banaun.

RF- Rahma Dinara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *