Hari itu hujan turun tepat saat bel pulang berbunyi. Aku, Lira, Vania, dan Siska terjebak di kelas karena tidak ada satu pun dari kami yang membawa payung. Awalnya kami hanya duduk diam sambil menunggu hujan reda, masing-masing sibuk dengan ponsel, tapi entah bagaimana suasana berubah ketika Lira mulai membuka galeri fotonya dan memperlihatkan foto-foto lama sejak awal kelas 12.

“Gila, kita dulu masih kaku banget ya,” kata Lira sambil tertawa kecil.

Kami semua ikut melihat. Ada foto saat pertama kali pembagian kelompok, saat masih saling canggung, bahkan saat belum hafal nama satu sama lain. Vania tiba-tiba bersandar di meja dan berkata pelan, “Tinggal sebentar lagi kita lulus, ya.”

Kalimat itu membuat suasana yang tadinya ramai langsung diam.

Padahal rasanya baru kemarin kami ditempatkan di kelas 12 dan masih asing satu sama lain. Lira yang awalnya pendiam, Vania yang kelihatannya jutek tapi ternyata paling perhatian, Siska yang selalu ribut di grup kelas, dan aku yang dulu hanya jadi pengamat. Tapi pelan-pelan semuanya berubah karena tugas kelompok, jam kosong, dan kebiasaan kecil yang kami lakukan setiap hari sampai tanpa sadar kami jadi dekat.

Kami mulai punya rutinitas sendiri. Jajan bareng saat istirahat, saling menunggu sebelum pulang, dan bercanda hal-hal receh yang kalau dipikir sekarang sebenarnya tidak lucu, tapi dulu bisa membuat kami tertawa sampai sakit perut. Bahkan hari-hari yang melelahkan terasa lebih ringan karena dijalani bersama.

Hujan di luar masih belum reda ketika Siska tiba-tiba membuka suara. “Aneh ya, dulu kita nggak akrab, tapi sekarang malah kayak nggak kebayang kalau nggak ketemu tiap hari.”

Aku mengangguk pelan. Di kepalaku juga muncul pertanyaan yang sama. Kenapa baru di tahun terakhir kami benar-benar dekat? Kenapa bukan dari awal?

Menjelang sore, hujan akhirnya mereda. Cahaya langit mulai berubah lembut, dan suara motor mulai terdengar lagi dari jalanan. Lira berdiri sambil merapikan tasnya.

“Foto dulu, yuk. Biar ada kenang-kenangan.”

Kami langsung berdiri di depan kelas. Tidak ada pose yang direncanakan, tidak ada yang serius. Siska malah sengaja membuat wajah aneh, Vania tertawa sambil menutup muka setengah, Lira memegang ponsel, dan aku hanya ikut tersenyum seadanya. Kamera berbunyi, dan momen itu selesai dalam hitungan detik.

Kelihatannya biasa saja.

Tapi entah kenapa aku merasa itu akan jadi salah satu momen yang sering terlintas di kepala nanti.

Karena kami semua tahu, setelah ini tidak akan ada lagi kelas yang sama, tidak ada lagi alasan untuk bertemu setiap hari, tidak ada lagi suara ribut di jam kosong, dan tidak ada lagi kami berempat dalam satu ruang yang sama.

Aku pernah berharap bisa mengenal mereka lebih cepat. Tapi semakin lama aku berpikir, semakin aku sadar bahwa mungkin satu tahun memang cukup.

Cukup untuk membuat orang asing menjadi bagian dari cerita yang sulit dilupakan.

rf: Rhea Azalea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *