LEGENDA RAWA PENING

Legenda Rawa Pening: Kutukan Anak Durhaka

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil di kaki Gunung Merbabu, hiduplah seorang janda miskin
bernama Mbok Srini. Ia hidup sebatang kara bersama putra tunggalnya yang bernama Baru Klinthing.
Meskipun hidup dalam kemiskinan, Mbok Srini membesarkan anaknya dengan penuh cinta dan harapan agar
Baru Klinthing menjadi anak yang saleh dan berbakti.

Namun, seiring beranjak dewasa, sifat Baru Klinthing berubah. Ia menjadi anak yang malas, sombong, dan
sering kali durhaka terhadap ibunya. Ia malu mengakui bahwa ibunya adalah seorang janda miskin. Setiap kali
Mbok Srini meminta bantuan untuk pekerjaan ringan di rumah, Baru Klinthing selalu menolak dengan kasar.

Ujian dari Orang Tua Tua

Suatu hari, datanglah seorang kakek tua yang lusuh dan kelaparan ke desa tersebut. Kakek itu mengetuk pintu
rumah Mbok Srini dan meminta sedikit makanan. Dengan hati yang tulus, Mbok Srini memberikan satu-satunya
nasi jagung yang ia miliki kepada kakek tersebut.

Melihat hal itu, Baru Klinthing yang baru pulang dari bermain menjadi marah. “Mengapa Ibu memberi makan
orang asing itu? Kita sendiri hampir kelaparan!” bentaknya.

Kakek tua itu tersenyum tipis dan berkata, “Wahai anak muda, ketahuilah bahwa berbakti kepada orang tua
adalah jalan menuju keberkahan. Jika engkau durhaka, malapetaka akan menimpamu.”

Baru Klinthing hanya tertawa meremehkan dan mengusir kakek tersebut. Kakek itu pun pergi dengan wajah
sedih, namun sebelum menghilang, ia berbisik, “Akan kubuktikan kebenaran kata-kataku.”

Tongkat Ajaib dan Janji Terlarang

Beberapa hari kemudian, kakek tua itu muncul kembali di hadapan Baru Klinthing. Kali ini, ia memberikan
sebuah tongkat kayu sederhana.

“Peganglah tongkat ini,” kata kakek itu. “Tancapkan tongkat ini ke tanah. Jika keluar air, maka itu pertanda
bahwa kamu memiliki kekuatan. Namun, ada satu syarat mutlak: Jangan pernah mencabut tongkat itu dari tanah. Jika kamu mencabutnya, bencana besar akan terjadi.”

Baru Klinthing, karena rasa ingin tahunya yang besar dan sifat sok tahunya, menerima tongkat tersebut. Ia
menancapkan tongkat itu di halaman belakang rumahnya. Ajaibnya, air mulai memancar deras dari bekas
tancapan tongkat itu, membentuk sebuah kolam kecil yang jernih. Warga desa pun heran dan mulai mengambil
air dari sana.

Kesombongan yang Memuncak

Melihat keajaiban itu, Baru Klinthing menjadi semakin sombong. Ia merasa dirinya sakti dan hebat. Ia mulai
melarang warga desa mengambil air semaunya dan bersikap angkuh. Ibunya, Mbok Srini, sering menasihatinya
agar tetap rendah hati dan mengingat pesan kakek tua itu untuk tidak mencabut tongkat tersebut.

Namun, nasihat itu diabaikan. Suatu sore, saat Baru Klinthing sedang pamer kekuatan di depan teman-
temannya, ia berkata, “Lihatlah, aku bisa mengendalikan air ini! Siapa bilang aku tidak boleh mencabut tongkat
ini?”

Dengan penuh arogansi, Baru Klinthing menarik tongkat itu dari tanah.

Bencana Banjir Besar

Seketika itu juga, langit menjadi gelap gulita. Angin kencang berhembus, dan dari lubang bekas tongkat itu, air
menyembur keluar dengan dahsyatnya. Air bukan lagi mengalir tenang, melainkan meluap seperti raksasa yang
mengamuk.

Baru Klinthing panik. Ia mencoba menutup lubang itu dengan tangan, dengan batu, bahkan dengan tubuhnya,
tetapi air terus menerus keluar dengan tekanan yang luar biasa kuat. Desa tersebut perlahan tenggelam.
Rumah-rumah hanyut, sawah terendam, dan warga desa berlarian menyelamatkan diri ke dataran tinggi.

Mbok Srini, yang sedang berdoa di dalam gubuknya, terseret arus. Baru Klinthing berusaha menyelamatkan
ibunya, tetapi ia terlambat. Arus air terlalu deras. Dalam detik-detik terakhir, Baru Klinthing menyadari
kesalahannya. Ia menangis menyesali kedurhakaannya, namun semuanya sudah terlambat.

Terbentuknya Rawa Pening

Air terus meluap hingga memenuhi seluruh cekungan desa. Daerah yang dulunya adalah pemukiman warga,
kini berubah menjadi danau luas yang dalam dan tenang. Danau itulah yang kini dikenal sebagai Rawa Pening.

Konon, jika Anda berkunjung ke Rawa Pening di Ambarawa pada hari-hari tertentu, terutama saat angin tenang,
Anda masih bisa melihat bayangan samar-samar di dasar danau. Ada yang mengatakan itu adalah sisa-sisa
bangunan desa kuno, dan ada pula yang percaya bahwa roh Baru Klinthing masih berkeliaran di sana,
menyesali perbuatannya.

Nama “Pening” sendiri konon berasal dari bahasa Jawa yang berarti “pusing” atau “bingung”, menggambarkan
kepanikan warga saat bencana itu terjadi, atau juga merujuk pada keadaan air yang kadang keruh dan
membingungkan karena kedalamannya.

Pesan Moral
Legenda Rawa Pening mengajarkan kita untuk selalu berbakti kepada orang tua, menjaga kerendahan hati, dan
tidak boleh sombong atas nikmat atau kemampuan yang kita miliki. Kesombongan dan kedurhakaan akan
membawa kehancuran bagi diri sendiri dan orang lain.

Ref. Rafif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *