Alkisah, pada zaman dahulu di tanah Kalimantan Selatan, berdirilah sebuah
kerajaan bernama Negara Dipa. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja bijaksana
bernama Ampu Jatmika. Meskipun kaya raya dan dicintai rakyatnya, Ampu Jatmika
merasa sedih karena ia bukanlah keturunan raja (bangsawan murni). Ia hanyalah
putra seorang saudagar kaya dari tanah seberang yang membangun kerajaan
tersebut.
Sebelum meninggal, ayah Ampu Jatmika berpesan bahwa jika ia ingin menjadi raja
yang sah, ia harus mencari “tanda-tanda kebesaran” dan menemukan seseorang
yang benar-benar berasal dari garis keturunan dewa atau bangsawan sejati untuk
memimpin rakyatnya.
Ritual di Sungai Tabalong
Ampu Jatmika kemudian memerintahkan patih kepercayaannya, Lambung
Mangkurat, yang dikenal memiliki kesaktian luar biasa, untuk bertapa dan mencari
petunjuk. Lambung Mangkurat pun melakukan tapa brata di pinggir sungai besar.
Setelah sekian lama bersemedi, sebuah fenomena aneh terjadi di permukaan air
sungai. Di tengah riak air yang tenang, muncul gumpalan buih putih yang sangat
besar dan berkilauan. Anehnya, buih tersebut tidak hanyut terbawa arus, melainkan
tetap diam di tempat. Di atas buih tersebut, tampak seorang bayi perempuan yang
sangat cantik jelita.
Lambung Mangkurat terkesima. Ia yakin inilah jawaban dari pertapaannya. Namun,
saat ia hendak mengambil bayi itu, sang bayi tiba-tiba bisa berbicara. Suaranya
merdu namun berwibawa:
“Wahai Lambung Mangkurat, janganlah kau menyentuhku dengan tangan telanjang.
Jika kau ingin membawaku ke istana, penuhilah dua syaratku.”
Syarat Sang Putri
Bayi ajaib yang kemudian dikenal sebagai Putri Junjung Buih itu mengajukan syarat
yang sangat berat dan harus diselesaikan dalam waktu singkat:
Kain Tenun Calap (Warna) Pelangi: Sebuah kain yang harus ditenun oleh 40 orang
perawan dalam waktu hanya setengah hari.
Istana Megah: Sebuah istana kecil (mahligai) yang harus dibangun oleh 40 orang
pria perkasa, juga dalam waktu setengah hari.
Lambung Mangkurat segera kembali ke kerajaan dan mengerahkan seluruh
kekuatan rakyat. Dengan bantuan kekuatan gaib dan kerja keras yang luar biasa,
rakyat Negara Dipa berhasil menyelesaikan kedua syarat tersebut tepat sebelum
matahari terbenam.
Kain pelangi yang indah diserahkan, dan mahligai megah telah berdiri. Lambung
Mangkurat pun menjemput sang bayi. Begitu bayi itu dibalut kain tenun tersebut, ia
tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang kecantikannya tak tertandingi di seluruh
nusantara.
Pernikahan Agung dan Kedamaian
Putri Junjung Buih kemudian diangkat menjadi raja (ratu) Negara Dipa.
Kehadirannya memberikan legitimasi spiritual bagi kerajaan tersebut. Untuk
melengkapi silsilah kerajaan, sang putri kemudian menikah dengan Pangeran
Suryanata, seorang putra mahkota dari Majapahit yang datang ke Kalimantan
melalui perantara kekuatan gaib.
Di bawah kepemimpinan mereka, Negara Dipa menjadi kerajaan yang sangat
makmur, adil, dan disegani. Sang Putri tidak hanya dikenal karena kecantikannya,
tetapi juga karena kebijaksanaannya dalam memutus perkara dan kasih sayangnya
kepada rakyat kecil.
Nilai-Nilai Moral dalam Cerita
Kisah Putri Junjung Buih bukan sekadar dongeng tentang keajaiban, melainkan
mengandung pesan mendalam bagi kehidupan kita:
- Kerja Keras dan Gotong Royong
Syarat yang diajukan sang putri (menenun kain dan membangun istana dalam
setengah hari) mustahil dilakukan sendirian. Keberhasilan Lambung Mangkurat
adalah bukti bahwa dengan persatuan dan kerjasama tim yang solid, hal-hal yang
mustahil bisa menjadi kenyataan. - Penghormatan terhadap Adat dan Proses
Lambung Mangkurat tidak langsung mengambil sang bayi secara paksa. Ia
menghormati syarat dan prosedur yang diminta. Ini mengajarkan kita untuk selalu
menjaga tata krama dan mengikuti aturan main jika ingin mendapatkan sesuatu
yang berharga dan terhormat. - Kepemimpinan yang Beretika
Ampu Jatmika menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Meski ia punya
kekuasaan, ia sadar akan kekurangannya dan berusaha mencari pemimpin yang
lebih layak demi kemaslahatan rakyatnya. Ini adalah contoh pemimpin yang tidak
haus kekuasaan, melainkan mengutamakan integritas. - Kesabaran dalam Berusaha
Lambung Mangkurat harus bertapa dan menunggu dalam waktu lama sebelum
mendapatkan petunjuk. Dalam hidup, hasil yang besar seringkali membutuhkan
kesabaran dan ketekunan yang luar biasa.
Catatan Budaya:
Hingga saat ini, sosok Putri Junjung Buih tetap dihormati dalam tradisi lisan
masyarakat Banjar dan Dayak di Kalimantan Selatan. Kain “Sasirangan” yang
menjadi kebanggaan masyarakat Kalsel pun sering dikaitkan secara legendaris
dengan kain tenun pelangi yang diminta oleh sang putri dalam kisah ini.
