Tugas Yang Tidak Dinilai

Di sekolah, hampir semua hal punya angka. Nilai ulangan. Nilai tugas. Nilai sikap. Bahkan kadang, pertemanan pun terasa seperti sedang dinilai. Hari itu, Bu Nimas masuk tanpa membawa lembar soal, ia hanya menulis satu kalimat di papan tulis dengan huruf yang rapi:

“Tugas minggu ini: Lakukan satu kebaikan. Tidak perlu bukti. Tidak ada nilai.”

Kelas langsung riuh. “Berarti bebas dong, Bu?” “Kalau nggak ada nilai, ngapain repot?”

Aku tidak ikut tertawa. Justru kalimat itu terasa seperti tantangan. Melakukan sesuatu tanpa dilihat. Tanpa diakui. Tanpa dicatat. Itu jauh lebih sulit daripada mengerjakan seratus soal pilihan ganda. Hari pertama, aku memperhatikan lebih banyak dari biasanya. Bukan untuk mencari pujian, tapi untuk mencari kesempatan.

Aku melihat seorang teman duduk sendiri di kantin, wajahnya lebih diam dari biasanya. Biasanya aku akan membiarkannya, berpikir itu bukan urusanku. Tapi kali ini aku duduk di depannya. “Kenapa?” tanyaku singkat. Ia tidak langsung menjawab. Tapi lima menit kemudian, ia mulai bercerita. Tentang tekanan rumah, tentang rasa lelah yang tidak pernah ia ucapkan di kelas, aku hanya mendengar. Tidak ada solusi hebat, tidak ada kata-kata motivasi berlebihan. Hanya hadir dan untuk pertama kalinya aku sadar kadang kebaikan bukan tentang melakukan sesuatu besar, tapi tentang tidak pergi saat seseorang membutuhkan.

Hari berikutnya, aku menghapus papan tulis sebelum guru masuk. Hal kecil, tapi aku melakukannya tanpa disuruh. Aku membantu merapikan buku-buku di perpustakaan setelah melihatnya berantakan. Aku menahan diri untuk tidak ikut menyebarkan gosip yang sedang ramai di grup kelas.Itu yang paling sulit. Karena ternyata, melakukan kebaikan bukan hanya soal tindakan, terkadang juga tentang menahan diri.

Di akhir minggu, Bu Nimas berdiri di depan kelas. “Siapa yang melakukan tugasnya?”

Beberapa tersenyum malu. Beberapa diam. “Tidak perlu cerita apa yang kalian lakukan,” katanya. “Saya hanya ingin kalian bertanya pada diri sendiri-apa yang berubah?”

Aku menatap meja, yang berubah bukan sekolah, bukan teman-temanku. Bahkan bukan suasana kelas. Yang berubah adalah caraku melihat semuanya. Aku mulai sadar, selama ini aku terlalu sibuk mengejar hal-hal yang terlihat, nilai tinggi, pengakuan, pujian. Padahal ada bagian dari diri kita yang jauh lebih penting dan tidak pernah masuk rapor yaitu “karakter”.

Bu Nimas melanjutkan, dengan suara yang tenang dan tegas.

“Kalian hidup di dunia yang gemar menghitung. Tapi tidak semua hal berharga bisa dihitung.”

Kalimat itu seperti mengetuk sesuatu di dalam diriku. Aku tidak membutuhkan angka untuk membuktikan bahwa aku mampu.Aku tidak perlu sorotan untuk tahu bahwa aku berarti.

Karena saat tidak ada yang melihat, dan aku tetap memilih berbuat baik-di situlah aku benar-benar menjadi diriku sendiri.

Minggu itu berakhir tanpa sertifikat ataupun penghargaan. Tapi setiap kali aku melihat papan nilai sekarang, aku tidak lagi merasa diukur sepenuhnya oleh angka. Ada nilai lain yang tidak tertulis. Dan untuk pertama kalinya, aku tahu nilainya tinggi.

Rf-Keyla Azra Zidney Ainnur Sita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *