
Aku mulai menyadari ada sesuatu yang berubah ketika aku tidak lagi ingin melihat bayanganku sendiri. Bukan karena aku membenci wajahku, tetapi karena aku tidak yakin siapa yang akan menatap balik dari sana.
Di rumah ini ada sebuah kamar kecil di bagian belakang. Kamar lama dengan dinding pucat dan udara yang selalu terasa sunyi.
Kamar itu tidak memiliki cermin.
Dulu aku tidak pernah menganggapnya aneh. Namun belakangan, kamar tanpa cermin justru menjadi tempat yang paling sering kutempati. Di sana, aku tidak perlu berhadapan dengan diriku sendiri.
Saat masih menjadi anak kecil,aku terbiasa berbicara tanpa ragu. Aku bisa mengatakan apa pun yang kupikirkan, menumpahkan perasaan tanpa takut dianggap berlebihan.
Sekarang aku masih berbicara, tetapi tidak sepenuhnya. Ada kalimat yang tertahan di tenggorokan, ada emosi yang kupilih untuk kusimpan. Perubahan itu tidak datang tiba-tiba. Tidak ada satu peristiwa besar yang mengubahku. Semuanya berlangsung perlahan, hampir tak terasa, seperti waktu yang diam-diam mengikis sesuatu.
Aku menjadi lebih berhati-hati, Lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, Lebih sering menimbang daripada merasakan. Tanpa kusadari, aku mulai menjauh dari diriku sendiri.
Di kamar tanpa cermin, aku sering duduk diam, mendengarkan napasku sendiri.
Terkadang aku mencoba membayangkan wajahku—apakah aku masih anak perempuan yang sama, atau seseorang yang hanya mengenakan namaku.
Orang-orang mengatakan aku semakin dewasa.
Padahal aku hanya lelah bersuara, dan memilih diam agar tak perlu lagi menjelaskan luka yang tak pernah benar-benar dianggap ada.
Ada malam-malam ketika aku takut.
Takut suatu hari aku bangun dan tak lagi mengenali diriku sendiri—bukan karena lupa, melainkan karena terlalu lama menyingkirkan perasaan yang seharusnya kuakui.
Namun di kamar tanpa cermin ini, aku mulai memahami satu hal:
aku belum sepenuhnya hilang.
Aku hanya berada di tengah proses—meninggalkan diriku yang lama dan mencoba menerima wujud baru yang masih terasa asing.
Aku keluar dari kamar itu tanpa melihat bayangan apa pun.
Dan mungkin, untuk saat ini, itu tidak apa-apa.
Karena yang terpenting bukanlah melihat siapa aku,
melainkan menyadari bahwa aku masih ada.
rf: Rhea Azalea
