Di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dahulu terbentang hutan lebat yang menyimpan banyak misteri. Masyarakat Banjar percaya bahwa setiap sudut hutan memiliki penunggunya, dan setiap aliran sungai menyimpan kisah yang tak pernah selesai diceritakan. Di antara kisah-kisah itu, terdapat sebuah legenda tentang asal-usul sebuah danau kecil yang hingga kini masih diyakini memiliki kekuatan gaib oleh penduduk setempat.
Konon, pada zaman dahulu, hiduplah seorang gadis bernama Sangkuriang Putri—bukan keturunan bangsawan, melainkan anak seorang pemburu sederhana. Ia dikenal karena kecantikannya yang alami dan sikapnya yang lembut. Rambutnya panjang hitam mengilap seperti malam tanpa bintang, dan matanya teduh seperti air sungai yang tenang. Namun, di balik kelembutannya, ia memiliki keberanian yang tidak dimiliki kebanyakan perempuan di kampungnya.
Suatu hari, ketika musim kemarau panjang melanda daerah itu, sungai-sungai mulai mengering dan hewan-hewan hutan turun mendekati pemukiman untuk mencari air. Penduduk kampung mulai gelisah, sebab kekeringan tidak hanya mengancam kehidupan mereka, tetapi juga diyakini sebagai pertanda bahwa penjaga hutan sedang murka.
Sangkuriang Putri merasa terpanggil untuk mencari tahu penyebabnya. Dengan tekad yang kuat, ia masuk ke dalam hutan, menelusuri jalan setapak yang jarang dilalui manusia. Setelah berjalan berhari-hari, ia menemukan sebuah mata air yang hampir mengering. Di sana, ia bertemu dengan seorang nenek tua yang duduk di atas batu besar.
Nenek itu tampak rapuh, namun matanya memancarkan cahaya yang aneh. Ia memperkenalkan diri sebagai penjaga hutan yang telah lama mengawasi keseimbangan alam di wilayah tersebut. Sang nenek menjelaskan bahwa kekeringan terjadi karena manusia telah melupakan rasa hormat kepada alam. Banyak pohon ditebang tanpa izin, dan sungai dikotori tanpa rasa bersalah.
Sangkuriang Putri merasa sedih mendengarnya. Ia memohon kepada sang penjaga agar memberikan kesempatan kepada penduduk kampung untuk memperbaiki kesalahan mereka. Namun, sang nenek menggeleng pelan.
“Alam tidak bisa dipaksa untuk memaafkan,” katanya. “Namun, jika ada yang bersedia berkorban dengan tulus, mungkin keseimbangan bisa kembali.”
Tanpa ragu, Sangkuriang Putri menawarkan dirinya. Ia bersedia menjadi penjaga baru mata air tersebut, menggantikan sang nenek, agar air kembali mengalir dan kehidupan bisa pulih. Nenek itu terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Pengorbananmu tidak akan sia-sia,” ucapnya.
Sejak saat itu, Sangkuriang Putri menghilang dari kampungnya. Tak ada yang tahu ke mana ia pergi. Namun, keesokan harinya, keajaiban terjadi. Dari tengah hutan, tiba-tiba muncul aliran air yang deras, membentuk sebuah danau kecil yang jernih. Sungai-sungai kembali mengalir, dan kehidupan perlahan pulih.
Penduduk kampung percaya bahwa danau itu adalah jelmaan dari pengorbanan Sangkuriang Putri. Mereka menamainya “Danau Putri Penjaga”. Airnya tak pernah kering, bahkan di musim kemarau sekalipun. Anehnya, siapa pun yang datang dengan niat buruk akan merasa gelisah dan tidak betah berada di sana.
Hingga kini, masyarakat Banjarbaru masih menjaga kelestarian hutan di sekitar danau tersebut. Mereka mengadakan ritual kecil sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan kepada Sangkuriang Putri, yang diyakini masih menjaga keseimbangan dari balik keheningan air.
Legenda ini menjadi pengingat bahwa alam bukan sekadar tempat hidup, tetapi juga sahabat yang harus dijaga. Dan di balik keindahan Banjarbaru, tersimpan kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta yang abadi terhadap alam.
