Misi Paling Gak Penting di Nexavien

Bagi miliaran penduduk galaksi, Nexavien adalah simbol kekuatan mutlak. Ia adalah sebuah aliansi raksasa yang menaungi ratusan planet, pusat peradaban dengan teknologi paling maju, dan pemilik armada militer terbesar di alam semesta.

Di markas utama Nexavien, kesibukan seolah tak pernah tidur. Di satu sudut, para petinggi militer sibuk mengatur strategi perang antargalaksi. Di sudut lain, para teknisi berdebat panas mengembangkan persenjataan baru dan merencanakan ekspansi ke planet asing. Semua orang punya peran besar untuk menjaga kejayaan aliansi ini.

Namun, hiruk-pikuk dan kesan megah itu sama sekali tidak terasa di ujung Hanggar Nomor 7.

Di sanalah Rava dan Kael berada, dua pilot tempur muda kebanggaan akademi Nexavien yang kini justru terjebak kebingungan. Rava, dengan sifatnya yang meledak-ledak dan tidak bisa diam, tampak sangat salah tempat berada di area kargo yang berdebu ini. Sementara Kael, rekannya yang selalu tenang dan berpikiran taktis, hanya berdiri bersandar di dinding.

“Jadi… kita disuruh ngapain?” keluh Rava. Pemuda itu mendesah pelan sambil menghempaskan diri duduk di atas tumpukan kotak logistik berbahan metal.

Di hadapannya, terparkir sebuah kapal angkut kecil yang tampak menyedihkan. Cat peraknya sudah memudar dimakan usia, dan di bagian lambung kapal terdapat tulisan yang setengah terhapus: NV-17 LUMINA.

“Aku juga gak yakin,” jawab Kael tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet yang memendarkan cahaya biru ke wajahnya yang datar. “Katanya sih… ‘misi distribusi’.” Rava mengernyitkan dahi tak percaya. “Distribusi? Kita ini pilot tempur Nexavien, Kael. Bukan kurir paket antarplanet.”

Kael hanya mengangkat bahu santai. “Ya, mungkin mereka lagi kurang orang.”

Keduanya saling tatap selama beberapa detik, sebelum akhirnya tertawa renyah. Sepanjang sejarah gemilang pertahanan Nexavien, ini mungkin misi paling tidak keren yang pernah

ada.Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam kokpit Lumina yang sempit. Suara mesin menderu kasar saat dihidupkan, diikuti panel-panel navigasi yang menyala satu per satu.

“Tujuan pertama: Koloni Luar Sektor D-9,” baca Kael sambil menekan beberapa tombol di konsol utama.Rava langsung menoleh. “Serius? Itu koloni pinggiran yang bahkan gak ada sinyal komunikasi stabil.” “Makanya kita dikirim ke sana, Jenius,” balas Kael ringan. Tuas ditarik, dan kapal Lumina pun lepas landas, menembus atmosfer markas pusat menuju kegelapan luar angkasa.

Perjalanan pertama berjalan sangat biasa. Terlalu sepi, bahkan. Tidak ada radar musuh yang berkedip, tidak ada manuver menghindar yang memacu adrenalin.

“Gila, ini beda banget sama simulasi latihan tempur,” gerutu Rava sambil mengunyah camilan.

Kael yang sedang mengawasi kemudi otomatis mendengus. “Ya iyalah, ini bukan medan perang.”

Beberapa jam menembus keheningan, Lumina akhirnya mendarat di permukaan berdebu Koloni D-9. Suara desis hidrolik terdengar saat pintu palka perlahan terbuka. Belum sempat Rava memijakkan kaki, seorang anak kecil berpakaian lusuh berlari antusias ke arah mereka. “KAKAK DATENG!!” teriaknya girang.

Rava terkesiap, nyaris menjatuhkan helmnya. “Eh… ini siapa?” tanyanya kebingungan. Kael melirik data di pemindainya. “Penduduk lokal.”.Anak itu tersenyum sangat lebar,

menatap kedua pilot itu dengan penuh kekaguman. “Bawa barang dari pusat, ya? Dari Nexavien?”.Kael mengangguk sambil tersenyum tipis. “Iya. Ini logistik dari pusat, dan… ada beberapa paket pribadi.”

Mata anak itu langsung berbinar-binar. Dari kejauhan, beberapa orang dewasa mulai melangkah mendekat. Gurat wajah mereka keras dan lelah, namun begitu melihat tumpukan kotak berlogo Nexavien di dalam kapal, ada sepercik harapan yang menyala di mata mereka.

Rava menuruni tangga kapal dengan langkah pelan. “Ini… cuma kiriman biasa, kan?” bisiknya ragu pada Kael.

Kael menatap kerumunan itu lamat-lamat. “Tapi kayaknya… ini bukan sekadar ‘kiriman biasa’ buat mereka.”.Hari itu, Rava dan Kael tidak langsung kembali ke pangkalan. Mereka menghabiskan waktu membantu warga membongkar muatan, membagikan logistik, dan mengobrol. Mereka mendengarkan cerita tentang kerasnya bertahan hidup di pinggiran galaksi, jauh dari kemegahan pusat Nexavien. Tentang sinyal yang selalu putus, suplai yang sering terlambat berbulan-bulan, dan rasa perih karena merasa dilupakan.

Malamnya, di bawah langit alien yang dipenuhi rasi bintang asing, Rava dan Kael duduk bersandar di luar kapal.

“Ra…” panggil Kael pelan, memecah keheningan. “Menurutmu, misi ini masih gak penting?”.Rava terdiam cukup lama. Ia menatap anak kecil tadi yang kini sedang tertawa lepas sambil bermain bersama teman-temannya. Rava menggeleng pelan.

“Enggak sih.” Ia menoleh pada Kael. “Kalau kita gak dateng… mungkin mereka harus nunggu lebih lama lagi dalam ketidakpastian.”

Perjalanan pun berlanjut dari satu koloni ke koloni lain. Dan di setiap pemberhentian, suasananya selalu sama. Tidak ada desingan peluru, tidak ada ledakan dahsyat, atau sorak kemenangan militer. Tapi selalu ada satu hal yang pasti: orang-orang yang lega karena penantian mereka berakhir.

Dalam perjalanan pulang menuju markas, Rava menyandarkan tubuhnya dengan lemas di kursi kopilot.

“Tau gak, Kael…” “Hm?”

“Kayaknya ini misi paling capek yang pernah aku jalanin.”

Kael terkekeh pelan. “Padahal kita cuma duduk dan angkat barang, ya?”

“Justru itu. Kita mikir ini gak penting… ternyata efeknya malah paling ngena,” gumam Rava sambil tersenyum tipis.

Kael mengangguk setuju. Ia menatap hamparan bintang dari balik jendela kokpit. Kadang, di alam semesta sebesar Nexavien, yang membuat peradaban tetap berdetak bukanlah kapal tempur raksasa. Melainkan kapal kargo kecil yang datang tepat waktu membawa harapan.

Beberapa hari kemudian, laporan misi mereka masuk ke pusat data. Status misi hanya tertera dengan satu kata sederhana: “Berhasil.”

Tanpa medali. Tanpa perayaan meriah.

Tapi entah kenapa, Rava dan Kael merasa misi ini jauh lebih berarti dari semua latihan tempur yang pernah mereka jalani. Hari itu mereka akhirnya memahami satu hal sederhana:

Tidak semua hal penting harus terlihat besar. Kadang, hal yang paling kecil justru adalah hal yang paling dibutuhkan.

rf; Rhea Azalea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *