SEUTAS JANJI DI BAWAH POHON FLAMBOYAN

Bel sekolah berbunyi tiga kali pagi itu, bukan sebagai penanda masuk kelas, melainkan sebagai tanda dimulainya upacara pelepasan siswa kelas dua belas. Di sudut halaman sekolah, bunga-bunga pohon flamboyan berguguran, menutupi aspal dengan warna merah menyala yang hangat sekaligus sendu.

Rian memandangi dasi abu-abunya yang sengaja penuh dengan tanda tangan coretan spidol warna-warni. Di sebelahnya, Dina sedang sibuk menyeka sudut matanya yang basah. Tiga tahun lalu, di bawah pohon flamboyan yang sama, mereka pertama kali bertemu sebagai murid baru yang asing dan canggung. Hari ini, tempat ini menjadi saksi akhir dari perjalanan seragam putih abu-abu mereka.

“Kamu benar-benar akan berangkat ke Bandung besok, Rian?” tanya Dina, suaranya agak serak menahan haru.

Rian mengangguk pelan. Ia menatap gedung sekolah berlantai dua yang selama ini menjadi rumah kedua mereka. Tempat mereka tertawa saat jam kosong, panik saat ujian matematika, dan dihukum bersama karena terlambat masuk gerbang.

“Iya, Din. Keretaku berangkat jam delapan pagi. Universitas Padjadjaran sudah menunggu,” jawab Rian mencoba tersenyum, meski hatinya terasa berat. “Kamu sendiri, jadi mengambil jurusan arsitektur di kota ini?”

“Jadi,” Dina menghela napas panjang, menatap riuh rendah teman-teman sekelas mereka yang sedang asyik berswafoto di depan panggung. “Rasanya baru kemarin kita bingung mencari ruang kelas saat MOS. Sekarang, kita sudah harus memilih jalan masing-masing.”

Upacara pun dimulai. Ketika lagu “Terima Kasihku” berkumandang melalui pengeras suara, suasana halaman sekolah seketika berubah magis. Isak tangis mulai terdengar di antara barisan siswa. Beberapa guru yang biasanya terkenal galak, kini tersenyum tulus sambil memeluk murid-murid mereka satu per satu.

Rian dan Dina berjalan mendekati Ibu Sarah, wali kelas mereka yang paling sabar. Saat menyalami tangan beliau, Ibu Sarah membisikkan sebuah pesan yang menancap kuat di hati mereka.

“Kejar mimpi kalian setinggi mungkin. Jarak mungkin memisahkan kalian dari sekolah ini, tapi ilmu dan kenangan di sini akan selalu menjadi jangkar agar kalian tidak tersesat.”

Setelah acara bersalaman selesai, Rian mengajak Dina kembali ke bawah pohon flamboyan. Rian merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk daun flamboyan kecil yang terbuat dari kayu. Ia memberikan satu kepada Dina.

“Ini untuk apa?” tanya Dina heran.

“Ini pengingat,” kata Rian tegas.

“Siapa pun kita lima atau sepuluh tahun ke depan, sukses atau masih berjuang, kita harus berjanji untuk bertemu lagi di bawah pohon ini. Membawa cerita sukses kita masing-masing.”

Dina tersenyum, air matanya runtuh tapi kali ini dengan perasaan lega. Ia menerima gantungan kunci itu dan menggenggamnya erat.

 “Janji. Kita tidak sedang berpisah, Rian. Kita hanya sedang berjalan lewat jalan yang berbeda untuk menuju puncak yang sama.”

Siang itu, matahari bersinar terik di atas kepala, namun angin sepoi-sepoi membawa guguran bunga flamboyan terbang mengiringi langkah para lulusan yang berjalan keluar dari gerbang sekolah. Mereka melangkah maju, meninggalkan masa lalu yang indah, demi menjemput masa depan yang penuh teka-teki.

rf; Rhea Azalea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *